• Tentang



    LATAR BELAKANG

    Ruang produksi, distribusi, dan konsumsi produk kebudayaan kini semakin luas dan berterima di masyarakat. Masyarakat sekaligus para pemangku kebijakan seolah setuju dengan wacana peningkatan produksi dan konsumsi produk kebudayaan dalam skala yang lebih besar; yang artinya diharapkan mampu memberi dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Selain ruang yang sedang diarahkan menuju taraf mapan ini, akses terhadap alat-alat produksi kian hari kian mudah dikuasai oleh masyarakat.

    Kedua kondisi tersebut bisa menjadi peluang, sekaligus tantangan pada saat yang sama. Dengan pasar produk kebudayaan yang berkembang makin pesat, kelompok dengan modal besar dapat dengan mudah menjalankan produksi, mengubah arah pola konsumsi, hingga monopoli. Kemapanan produsen demikian tentu dapat menutup potensi-potensi fragmen lain yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Sementara itu, keterampilan produksi alternatif yang memiliki nilai ekonomi akan merasa jalan di tempat tanpa daya yang kuat.

    Maka dari itu, dari sekian banyak kemungkinan produksi kebudayaan yang bertahan, mereka tidak dapat berkembang lantaran minimnya daya dan apresiasi. Dalam keadaan stagnan, kelompok kecil tak hanya sulit memberi dampak produksi kebudayaan alternatif, melainkan juga turut tergerus dalam arah produksi-konsumsi arus utama yang mapan. Dengan demikian, perlu adanya kerjasama yang berdasar pada satu nilai dan kepercayaan yang sama untuk saling menguatkan diri satu sama lain. Dengan bergerak bersama, daya yang dimiliki oleh kelompok produksi kebudayaan alternatif akan semakin besar begitu pula dampak yang nantinya akan didapat oleh masyarakat, tak terbatas pada kesempatan untuk berkembang dan bernilai lebih secara ekonomi.

    MODEL KERJA

    Koperasi produksi merupakan model koperasi yang menyelanggarakan kegiatan usaha pelayanan di bidang pengadaan sarana, pemasaran, dan faktor produksi serta pemasaran produksi yang dihasilkan Anggota kepada Anggota dan non-Anggota. Dalam hal ini, kegiatan produksi hingga pemasaran yang akan kami lakukan fokus pada produk-produk kebudayaan kreatif yang meliputi:

    1. Suara. Produk Suara merupakan produk kebudayaan yang dikemas dalam medium seni musik alternatif.
    2. Rupa. Produk Rupa merupakan produk kebudayaan yang dikemas dalam medium seni rupa yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan wacana kepada masyarakat.
    3. Aksara. Produk Aksara merupakan produk kebudayaan yang dikemas dalam medium sastra dan pemanfaatan elemen-elemen bahasa yang indah dan dapat memberi dampak kepada masyarakat.
    4. Busana. Produk Busana merupakan produk kebudayaan yang dikemas dalam medium kenaan sehari-hari dengan memperhatikan etika dan nilai sosial yang diyakini.
    5. Agenda. Produk Agenda merupakan produk kebudayaan praktikal yang dikemas dalam bentuk acara edukatif yang menyasar masyarakat dengan dasar pemberdayaan.

    NILAI DAN PRINSIP

    Berdasar pada kepercayaan kemapanan alternatif, koperasi produksi ini mengambangkan tujuh prinsip kerja yang meliputi:

    1. Kesukarelaan dan keterbukaan anggota. Setiap anggota adalah individu-individu yang merdeka dalam menentukan pilihan untuk bergabung dan meninggalkan keanggotaan. Selain itu, tidak ada diskriminasi pada tiap anggota. Tiap anggota diperlakukan dan memperlakukan sama.
    2. Kontrol anggota demokratis. Kekuasaan tertinggi ada di tangan anggota, dan dengan demikian, pengelolaan koperasi harus dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota. 
    3. Partisipasi ekonomi anggota. Dalam bekerja, tiap anggota memiliki beban dan tanggung jawab yang sama, begitupun dengan pembagian hasil kerja. Dalam hal ini, kegiatan kerja bersama berdasarkan pada rasa kekeluargaan, empati, dan tolong-menolong.
    4. Mandiri dan otonomi. Koperasi harus berdiri sendiri tanpa bergantung pada pihak lain yang didasarkan atas kepercayaan kepada pertimbangan, keputusan, kemampuan, dan usaha sendiri. Kegiatan bersama ini menjunjung kebebasan yang bertanggung jawab, otonomi, swadaya, berani mempertanggungjawabkan perbuatan sendiri, dan kehendak untuk mengelola diri sendiri.
    5. Edukasi, pelatihan, dan informasi. Berdasar asas kekeluargaan, koperasi juga turut andil dalam pemberian edukasi, pelatihan, dan informasi pada tiap anggota dengan harapan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan kualitas kerja.
    6. Bekerja sama dengan pihak lain. Tidak menutup kemungkinan bahwa kegiatan koperasi dapat berkerja sama dengan pihak-pihak lain yang sesuai dengan pertimbangan, keputusan, kemampuan tiap anggota.
    7. Peduli terhadap komunitas. Selain peningkatan kualitas sumber daya manusia internal dan nilai-nilai ekonomis dalam tiap pekerjaan, koperasi bekerja untuk turut serta memberdayakan masyarakat sekitar berdasarkan pada kerja dan nilai yang diyakini.